Oleh-Oleh dari Jogja

7:52 PM

Lebaran 1438 H (bertepatan 2017M) ini jadwal trip kami bergeser secara signifikan. Sedianya kami fokuskan acara di Comal - Pemalang, berganti ke Bantul - Jogja karena ada kabar duka. Kakek kami berpulang tepat di hari ke-25 Ramadhan 1438 H kemarin. Menjadikan kami berkumpul seluruhnya di Bantul sebagaimana permintaan beliau. Tapi tentu dalam suasana yang berbeda.

Berlibur ke Bantul - Jogja, selalu memberi saya rasa dan nilai berbeda. Jika harus menggunakan ungkapan sederhana, maka kalimat seorang Joko Suud - pengamat budaya, adalah yang paling saya suka; Wisata lambat a la Jogja. Di sini waktu berjalan sangat lama, karenanya penuh penghayatan dan sarat makna.

Pasar Angkruksari, Bantul - Jogja

Pasar dan Kerinduan

Akhir dari Ramadhan, dan budaya mudik di negara kita, menjadikan skala transaksi di pasar-pasar kampung mendadak ber-amoeba berkali-kali lipat. Aliran dana yang "mudik" dari kota-kota besar membanjiri pasar udik dengan daya beli yang meningkat tajam. Alhasil, pasar jadi semakin riuh.

Begitupun dengan pasar tradisional terdekat dari kampung kami ini, Pasar Angkruksari Kabupaten Bantul. Belum lama pasar ini direlokasi, menjadikannya lebih rapi dan bersih dengan daya tampung parkir yang mempu menyaingi pusat perbelanjaan modern.

Dalam riuh pasar ini, saya mendapati sepasang suami istri yang menjajakan urung-kupat (bungkus kupat dari daun kelapa) yang sedang asyik melayani pesanan pelanggan. Saya dan istri ikut meramaikan dagangannya. Sudah jadi tradisi kami merayakan Iedul Fitri ditemani makanan khas ini.

Karena ramainya pesanan, sediaan urung-kupat yang sudah jadi milik si Bapak mulai menipis. Membangkitkan niat saya untuk menjalani lagi hobi saya selagi kecil; menganyam urung-kupat. Jadilah saya berlomba dengan si Bapak melayani pesanan pelanggan. Saya lakukan ini sukarela, bahkan dengan sukacita, karena aktifitas ini memberikan saya sedikit penawar rindu untuk segera bertemu Ayah di Comal sana. Ya, beliau yang mengajari saya di waktu kecil menganyam urung-kupat untuk kemudian menjualnya kepada para tetangga yang memesan.

Membuat urung kupat di Pasar Angkruksari, Bantul

Ada Kaizen di Lapangan Mojo


Sholat Ied kali ini memang bukan yang pertama saya jalani di lapangan Mojo, Kretek - Bantul, Jogjakarta. Tapi sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, selalu ada nilai yang bisa saya ambil pelajaran dari setiap kunjungan saya ke Jogja. Begitupun kali ini, isi khutbah Ied yang disampaikan dalam bahasa Jawa kromo inggil seperti biasa memberi saya ilmu baru yang sayang kalau untuk tidak saya bagikan. Minimal saya abadikan dalam catatan ini.

Bahwa bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah (bulan pembelajaran) sudah sering kita dengar. Dan bahwa setelah Ramadhan adalah bulan seharusnya kita mengaplikasikan hasil pembelajaran sebelumnya, juga setiap tahun didengungkan. Tapi, kondisi bahwa setelah Ramadhan ibadah kita semakin menurun adalah juga hal yang sangat banyak kita jumpai. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa meningkatkan taraf ibadah kita di bulan Syawal sebagaimana namanya (syawal = peningkatan)?

Maka inilah tips Kaizen (continues improvement) dalam beribadah dari sang khatib di lapangan Mojo:

Senantiasalah perbaharui niat, dan ingatlah bahwa kita bisa mati kapan saja. Inilah yang disebut manajemen kematian.
Suasana selepas sholat Ied 1438H di Lapangan Mojo

Kupat dan Lebaran


Yang berikut ini adalah duet maut tak terpisahkan. Bagi kami, dan saya rasa juga bagi kita semua muslim di Indonesia, ketupat (orang Jawa bilang kupat) dan Iedul Fitri (lagi, orang Jawa bilang lebaran) adalah dua hal yang saling khas. Tapi apakah anda tau makna dibalik penyebutan berbeda oleh orang Jawa untuk keduanya?

Kali ini saya dapat pelajaran lagi dari penceramah di acara halal-bihalal dukuh kami. Sudah tradisi tahunan juga, bahwa setiap lebaran pemuda masjid kami menjadi panitia penyelenggaraan halal-bihalal. Sebuah ajang silatil arham antar warga dukuh dan sanak-saudara yang kemungkinan baru datang dari luar kota.

Kupat, menurut Kyai Sujadi - penceramah di acara tadi, adalah sebutan yang diberikan oleh para wali untuk makanan berbahan beras dan berbungkus daun kelapa yang masih muda (janur). Kupat bermakna "ngaku lepat" atau mengaku bersalah sebagai bentuk lanjutan dari rangkainan peribadatan selama bulan Ramadhan. Bagaimana caranya ngaku lepat? ya dengan menjalankan "laku papat" atau empat hal: Lebar - Luber - Lebur - Labur.

Kupat ; Ngaku lepat kanti laku ingkang papat.


Lebar artinya selesai dalam bahasa Jawa. Mengandung makna bahwa kita telah selesai dari agenda pembelajaran selama Ramadhan sebagai bulan pembakar, penempa keimanan kita menuju derajat taqwa.

Luber artinya berlebih dalam bahasa Jawa. Mengandung makna bahwa sebagai bentuk syukur kita senantiasa harus berbagi atas nikmat berlebih yang telah kita peroleh selama ini. Bertautan dengan ini adalah agenda zakat fitrah yang menjadi amalan di penghujung Ramadhan.

Lebur artinya leleh dalam bahasa Jawa. Mengandung makna terleburnya segenap dosa dan kesalahan kita melalui Ramadhan yang dalam bahasa Arab juga berarti bulan pembakar.

Labur artinya mengecat dinding dengan warna putih dari kapur. Ini aktifitas yang hampir "punah" dalam menyambut Iedul Fitri di kampung-kampung belakangan ini. Mengandung makna pengaplikasian kesucian yang telah kita peroleh setelah lulus dari pembelajaran Ramadhan.

Semoga oleh-oleh dari Jogja kali ini bisa saya bagikan manfaatnya.

Salam Teleportasi Manfaat

@hartantoID

Anda Akan Suka Ini Juga

0 komentar

nasihat adalah komitmen untuk bersama-sama menjadi lebih baik, dan nasihat tebaik adalah suri tauladan.