Suluk Raden Kopi (1) : Pentingnya Rencana Bisnis

11:48 AM

Mulai 1 Muharram 1438 H, yang bertepatan 1 Oktober 2016 kemarin, saya putuskan untuk menjadi full-time entrepreneur setelah sebelumnya beberapa kali mencoba menjalaninya sebagai sambilan. 
Salah satu unit usaha yang kemudian saya geluti adalah mengelola sebuah kedai kopi, atau lebih tepatnya coffee corner karena memang baru sebatas sebuah pojok kopi di sebuah resto.

Pengalaman kedai kopi, yang kami beri nama Raden Kopi, inilah yang kemudian sedari awal ingin saya bagi melalui blog ini. Minimal, menjadi catatan pribadi saya sebagai bahan perbaikan berkelanjutan yang menjadi keharusan dalam berwirausaha. 

Baca juga: Hubungan Harga Baju, Harga Diri dan Harga Kopi 

Catatan-catatan terkait Raden Kopi ini akan saya tulis dalam beberapa sub-judul dengan judul besar Suluk Raden Kopi.

Suluk Raden Kopi #1 : Pentingnya Rencana Bisnis


Sebagian besar dari kita tentu seringkali mendengar istilah business plan. Tapi sebenarnya, sebelum membahas terlebih jauh, apa definisi business plan

Rencana bisnis adalah pernyataan formal atas tujuan berdirinya sebuah bisnis, serta alasan mengapa pendirinya yakin bahwa tujuan tersebut dapat dicapai, serta strategi atau rencana-rencana apa yang akan dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut. Rencana bisnis juga dapat mengandung informasi tentang latar belakang organisasi atau tim yang bertanggung jawab memenuhi tujuan itu.
Sebagaimana kutipan uraian wikipedia di atas, sebuah rencana bisnis dapat kita kenali dengan ciri-ciri singkat sebagai berikut:

Pentingnya Rencana Bisnis.... 


#1. Berisi Tujuan Berdirinya Bisnis (WHAT)

Ini hal mendasar yang nampaknya makin kurang dibahas secara serius seiring maraknya semangat berwirausaha dan/atau mendirikan start-up.

Dalam tinjauan kasus industri kafe atau tempat nongkrong, sekarang ini (setidaknya di  kota saya tinggal, Cirebon) banyak bermunculan tempat nongkrong baru yang umurnya cenderung singkat. Di lokasi yang sama saja, bisa berubah menjadi 3 tempat nongkrong yang berbeda dalam waktu kurang dari 3 tahun.


Dari kacamata saya, hal penting yang menjadi penyebab silih-bergantinya tempat nongkrong sekarang ini adalah kurang kuatnya konsep yang akan diusung oleh tempat usaha itu. Apa tujuan besar dari usaha, dalam hal ini kafe, yang akan didirikan?


Dalam catatan saya, banyak dari tempat nongkrong di kota saya ini, dan mungkin juga di kota anda, hanya sekedar ikut trend. Tidak memiliki tujuan besar yang sedemikian kuatnya sehingga layak diperjuangkan dengan target yang realistis dan tidak musiman.

#2. Alasan Kuat akan Tercapainya Tujuan (WHY)

Perbedaan seorang pemimpi dengan pemimpin adalah di huruf "n". Ada yang mengartikan faktor "n" disini adalah "nyali" untuk mewujudkan mimpi tersebut. Nyali yang hanya bisa lahir dan bertahan karena sebuah alasan yang sangat kuat untuk bisa berdarah-darah mewujudkannya.

Sebagai gambaran, kalau sebuah kafe direncanakan hanya untuk meraup rupiah melihat adanya trend (dan ini juga tidak sepenuhnya salah), maka alasan tercapainya tujuan tersebut akan sangat dangkal. 

Misal; karena modalnya dari pinjaman maka WHY yang muncul adalah karena kalau tidak berhasil maka akan punya outstanding hutang yang membahayakan kondisi finansial. Sekali lagi, hal ini pun tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, kurang kuat sebagai penopang keberlangsungan usaha.

#3. Strategi untuk Tercapainya Tujuan (HOW)

Setelah tujuan ditetapkan, motivasi didapat, tentu hal berikutnya adalah bagaimana caranya agar tujuan itu terealisasi. Melanjutkan analogi pemimpi tadi, tentu layak untuk ditentukan langkah pertama dan selanjutnya apa yang harus dilanjutkan setelah bangun tidur dan bertekad mewujudkan mimpi itu.

Banyak hal bisa dibahas dalam hal ini. Yang jelas dan pasti, dalam sebuah rencana bisnis seorang pengusaha pemula harus bisa merumuskan secara rinci strategi-strategi yang akan diterapkan dalam bisnisnya. Dalam pelaksanaannya boleh saja strategi ini bersifat dinamis, akan tetapi bukan berarti tidak merencanakan apa-apa menjadi lebih baik.


Karena rencana tanpa aksi adalah mimpi, tapi aksi tanpa rencana adalah mimpi buruk.


#4. Informasi Tim (WHO)

Rencanakan dengan matang dan libatkan tim... 


Siapa yang bertanggung jawab akan tercapainya ketiga hal tersebut diatas? Bagaimana seorang pembaca bisa diyakinkan bahwa tujuan mulia dengan motivasi kuat disertai strategi yang hebat mampu dieksekusi dengan baik? Di sinilah pentingnya kita memaparkan siapa tim kita dalam sebuah rencana bisnis.


Jika Anda berencana membuat sebuah kedai kopi dengan konsep unik dan nilai tambah yang besar bagi para penikmat kopi. Maka sangat penting mencantumkan siapa barrista yang akan didapuk meracik kopi untuk para pelanggan. Penting bagi para pembaca rencana bisnis untuk memperoleh keyakinan mendasar akan tercapainya target usaha. 


Yang terjadi belakangan adalah, orang beramai-ramai membuat kafe atau tempat nongkrong dengan tujuan untuk meraup potensi pasar. Alasannya pun sebagaimana sudah disampaikan, dangkal. 

Berikutnya, strategi yang disusun pun cenderung sekedar untuk menciptakan keramaian. Dan, point terakhir yang sangat fatal adalah: mereka lupa bahwa ini adalah tetap saja bisnis Food & Beverage yang mengutamakan kualitas produk sajian. Tidak perduli sebagus apa tempat anda, kalau makanan dan/atau minuman anda tidak dapat menarik pelanggan, maka umur usaha kafe anda dalam hitungan singkat.

Meramu Rencana Bisnis Bukanlah Proses Sekali Jadi


Tulisan di atas merupakan hasil renungan atas apa yang saya lakukan dengan Raden Kopi. Boleh saja digunakan dalam menerapkan rencana bisnis Anda. Tapi, harus diingat kalau rencana bisnis itu bukanlah proses sekali jadi. 

Selain itu, setiap usaha akan memiliki karakteristik berbeda yang perlu dipahami setiap orang yang ingin meramu business plan. Semoga tulisan ini bermanfaat. Bagi yang ingin berdiskusi bagaimana meramu sebuah rencana bisnis; apapun bisnis yang ingin didirikan (asal halal ya), feel free to contact me.


@hartantoID

Anda Akan Suka Ini Juga

0 komentar

nasihat adalah komitmen untuk bersama-sama menjadi lebih baik, dan nasihat tebaik adalah suri tauladan.