Adakah Hubungan antara Bekerja dengan Rizqi?

5:09 PM


Sering nggak dengar ungkapan atau pernyataan seperti ini:

"Kalau nggak banting tulang, terus anak istri mau makan apa?"

"Yang rajin aja susah hidupnya, apalagi yang malas?"

Atau seperti ini:

"Yang penting berusaha, hasil kan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang punya kuasa."

Yup, banyak pola pikir dan sudut pandang terkait aktivitas bekerja, berikut segala atributnya, dengan rizqi atau jaminan hidup seseorang di dunia.

#1. Jaminan atas Rizqi

Di beberapa kesempatan seringkali kita dapati nasihat menyejukkan ini. Bahwa di dalam hidup ini tidak perlu resah dengan rizqi yang kita butuhkan untuk hidup. Sungguh pun demikian, kenyataannya lebih banyak orang yang kemudian disibukkan dengan aktivitas yang seolah harus dilakukan untuk menggaransi berlakunya jaminan ini.

Menjadi aneh memang, pada saat kemudian kita direpotkan dengan aktivitas yang tidak perlu. Lha bagaimana dianggap perlu, wong kita sibuk kalang-kabut hanya untuk melakukan sesuatu yang dijamin tidak akan meleset oleh yang memberi jaminan??? Ibarat sederhananya begini; kita beli barang, yang mana kita mendapat jaminan akan adanya penggantian spare parts selama kurun waktu tertentu. Kemudian  dalam kurun waktu tersebut terjadi kerusakan dan kita seolah lupa jaminan dimaksud, berupaya sekuat tenaga mengganti spare parts itu sendiri. Segala daya upaya kita lakukan hanya untuk membuat barang dimaksud tidak lagi original. Betapa meruginya kita.

Maka dalam konteks inilah kemudian seharusnya kita sesering mungkin mengingat akan adanya klausul jaminan berikut ini;

"Tidak akan diwafatkan seorang anak Adam melainkan sudah kami cukupkan rizqi Kami untuknya."

#2. Bekerja untuk Bersyukur

Kalau kemudian jaminan untuk hidup ini sudah ada, lantas untuk apa kita bekerja? Bukankah tidak sedikit orang menjadikan agenda pemenuhan "kebutuhan" dimaksud sebagai motivasi dalam bekerja?

Dalam hal ini, kisah seorang Nabi Daud kiranya dapat menjadi pemantik lentera pemahaman kita. Adalah Daud 'alaihissalam, seorang raja orang Israel, yang sudah tentu kaya. Akan tetapi tetap menekuni usahanya untuk membuat baju zirah dan mendapatkan keuntungan daripadanya, kemudian beliau gunakan untuk menghidupi keluarganya.

Sebenarnya, apa perintah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dalam hal ini kepada beliau? Tertera jelas dalam al-Qur'an bahwasannya Allah memerintahkan Sang Nabi untuk bekerja sebagai bentuk rasa syukur. Menarik bukan? Inilah kisah nyata yang patut menjadi panutan.

Rasa syukur adalah bentuk terima kasih seorang hamba kepada Sang Pencipta atas setiap kemurahan-NYA. Dalam hal ini, kiranya tidak terlalu mengada-ada pada saat kita mengaitkan rasa syukur ini dengan jaminan rizqi di atas. Disebabkan karena jaminan Allah atas rizqi di dalam hidup kita, lantas kita bersyukur dalam bentuk bekerja. Dan, insya Allah, dikarenakan wujud syukur kita itu maka kemudian Allah menambahkan nikmat-NYA.

"Barangsiapa bersyukur akan Aku tambahkan nikmat dari-Ku. Tapi barang siapa mengingkarinya, sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih."

Kesimpulan

Kita tentu tidak ingin masuk ke dalam golongan yang mengingkari nikmat-nikmat Allah bukan? Termasuk di dalamnya nikmat berupa jaminan atas rizqi dimaksud.

Sungguh, cerita berikut mungkin mampu menggugah hati kita tentang bagaimana merumuskan bentuk kepasrahan atas pastinya janji Allah, dengan usaha yang kita lakukan sebagai bentuk rasa syukur.

Alkisah, seekor bayi anak gagak dilahirkan dengan kondisi badan yang putih, tidak serupa dengan ayah ibunya yang hitam. Karena hal perbedaan ini kemudian, sang induk meninggalkan anaknya karena kurang yakin. Namun mereka tidak meninggalkannya sepenuhnya, hanya mengamati dari jarak yang aman.

Allah memberikan rahmat-Nya bahkan untuk seekor bayi gagak. Dia berikan aroma wangi saat sang anak gagak kelaparan dan membuka mulutnya. Wangi itu kemudian memancing serangga datang sehingga mudah untuk dimangsa menjadi makanan bagi sang bayi. Setelah kenyang, wangi itu pun Dia cabut sehingga tak ada lagi serangga yang datang mengganggu. Begitu seterusnya hingga tubuh bayi gagak menghitam, dan orang tuanya kembali kepada keyakinannya akan anaknya dan kemudian merawatnya.

Mari Teleportasikan Manfaatnya.

@hartantoID

Anda Akan Suka Ini Juga

0 komentar

nasihat adalah komitmen untuk bersama-sama menjadi lebih baik, dan nasihat tebaik adalah suri tauladan.

Like us on Facebook


Flickr Images