Tentang Manusia dan Ukuran - Dua Ukuran Manusia yang Harus Kamu Tahu

9:11 AM

Tiba-tiba pagi ini teringat sebuah pernyataan dari Einstein, bahwa sesungguhnya kesederhanaan (simplicity) adalah bentuk paling canggih dari setiap kompleksitas. Itulah mungkin kenapa dia mencipta rumus yang "hanya" E=MxC2 dengan rentetan penelitian yang sedemikian kompleks dan panjang. Atau, barangkali bisa dibaca demikian; semakin canggih sesuatu semestinya semakin sederhana, bukan semakin kompleks sebagaimana yang kita hadapi setiap hari.

Berbagai perumpamaan yang pernah kita dengar tentang manusia dan ukuran kehidupannya di dunia ini pun tidak lepas dari kesederhanaan. Nabi Muhammad S.A.W pun terkenal dengan ucapan yang singkat namun sarat makna. Sunan Kalijaga bahkan pernah berujar; 
"Urip mung mampir ngombe"
Kalau dalam ukuran waktu yang hanya sekedar numpang minum itu, kita sudah berpolah seolah akan hidup selamanya? Maka betapa "tidak-canggih" nya kita???




Manusia dan Ukuran - Dua Ukuran Manusia yang Perlu Kamu Tahu


Dulu, saat saya sama sekali belum mengerti bahwa hidup se-njelimet ini, Guru mengaji saya pernah berwasiat bahwasanya manusia dan ukuran mereka dalam hidup itu untuk dua ukuran. 


Pertama, adalah ketaqwaan kepada Sang Pencipta. Kedua, adalah kebermanfaatan untuk sesama. 

Kedua ukuran sederhana ini kemudian dibawa menjadi sangat kompleks oleh manusia pada penerapannya. Manusia dan ukuran dalam hidup ini memang agak njelimet karena manusia sendiri. Memang, keduanya tidak sepenuhnya bisa dikatakan sederhana dalam pola pikir kita sebagai manusia. Tapi kalau kita senantiasa sadar sebagai seorang hamba, maka kesederhanaan tujuan itu menjadi sangat niscaya. 

Manusia dan Ukuran dalam Hidup #1. Ketaqwaan


Di Mata Allah, Tuhan Semesta Alam, makhluk yang lebih utama dalam pandangan-NYA adalah yang lebih bertaqwa. Sekali lagi, secara sederhana disampaikan, bahwa taqwa adalah menjalankan segala yang diperintahkan oleh-NYA dan menjauhi segala larangan-NYA.

Sederhana dalam deskripsi, tapi ya seperti tadi sudah dibilang, sangat kompleks dalam implementasinya oleh manusia. Membahas untuk konsisten (istiqomah) menjalankan satu perintah Allah saja sepanjang hidup sudah cukup "kompleks" bagi manusia. 

Apalagi perihal meninggalkan larangan-larangan dari-NYA yang cenderung terlihat sebagai kenikmatan dunia. Sungguh, ketaqwaan ternyata bukan perihal sederhana.


Manusia dan Ukuran dalam Hidup #2. Kebermanfaatan


Di mata sesama, dan segenap makhluk lainnya, manusia yang lebih utama adalah manusia yang lebih banyak kebermanfaatannya kepada sesama makhluk. Sederhana saja, di mata anda secara pribadi, lebih utama mana antara teman A yang tidak pernah membantu dengan teman B yang senantiasa ada untuk anda?

Dari ukuran ke-dua ini, seorang manusia menjadi punya semacam guideline yang jelas dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Dari sini pula, lebih mudah dipahami bahwa rizqi kita sesungguhnya adalah yang kita manfaatkan untuk sesama, bukan yang kita telan sendiri.


Sinkronisasi Dua Ukuran dalam Hidup Manusia


Dari kedua ukuran di atas, kemudian timbul pertanyaan; bisakah keduanya sinkron? Praktiknya, sering muncul pertanyaan atau pertentangan bahwa seseorang yang (merasa) mendekat kepada Tuhannya menjadi jauh dari sesamanya. Atau sebaliknya, seseorang yang sibuk dengan sesamanya condong pada menjauh dari Tuhannya. Benarkah demikian???

Rasanya tidak mungkin aturan ilahi bertentangan satu dan lainnya. Demikian juga kedua ukuran yang sedang kita bicarakan. Ketaqwaan kepada Tuhan sudah barang tentu menjadikan seorang makhluk untuk lebih bisa memberi manfaat kepada sesamanya. 

Contoh yang paling "continuum" adalah, bahwa sholat saja dimulai dengan takbir mengagungkan nama-NYA dan diakhiri dengan menebar salam ke kiri kanannya?

Jadi, tetaplah kita saling mengingatkan untuk senantiasa memegang teguh kedua ukuran itu. Hidup memang hanya sebentar, namun dalam waktu yang singkat itu kita dituntut mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan nanti yang kekal.

Menutup coretan pagi ini, menarik untuk kita ingat lagi sebuah catatan lama;

"Jika ada dua orang; yang satu taat beribadah namun berakhlak buruk kepada sesama, yang kedua sangat baik kepada sesama namun tidak mengenal Tuhannya. Maka kita wajib berdo'a; semoga ibadah-ibadahnya orang pertama membawanya kepada kesadaran bahwa selama hidup di dunia pintu ibadah kepada sesama adalah lebih banyak dan layak diperjuangkan, dan semoga kebaikan-kebaikan orang kedua membawanya kepada hidayah untuk bisa mengenal Allah"

@hartantoID

Anda Akan Suka Ini Juga

0 komentar

nasihat adalah komitmen untuk bersama-sama menjadi lebih baik, dan nasihat tebaik adalah suri tauladan.

Like us on Facebook


Flickr Images