Yang Membuat Kita Seperti Sekarang

11:34 AM

Seorang teman lama kirim chat dan bilang akan mampir untuk ngopi. Dengan gembira saya persilahkan dan segera saya siapkan 3 gelas kecil kopi karena dia bilang akan mengajak temannya ikut serta. Tidak sampai hilang hangat dan wangi kopi yang saya seduh, kedua tamu itu pun akhirnya mengucap salam di ujung pintu. Dan, perkenalan dan pembicaraan pun dimulai.

Sebenarnya pembicaraan hanya seputar perkenalan normal dengan teman baru saya ini, dibumbui memori kisah saya dengan teman lama yang tak kalah seru. Sampailah pada sebuah pernyataan, atau saya catat sebagai pertanyaan, dari teman baru ini; "apapun kondisi kita sekarang ini, tentu ada hal-hal yang membentuknya". Dalam hati saya bertanya; apa yang membuat kita seperti sekarang ini - terutama saya sendiri?


Yang Membuat Kita Seperti Sekarang


Lama saya pikirkan hal itu. Kalau saja setiap orang berhitung nikmat yang sekarang ini diterima, pasti lah semua orang akan merasa "berhutang". Karena sejatinya terlalu banyak nikmat untuk dibayar dengan usaha atau amalan kita seorang diri. Pasti ada peran dan/atau jasa pihak lain?


Investasi atau Usaha?


Kalau dianalogikan dalam kekayaan material, ada dua penyebab seseorang untuk (terlihat) kaya. Apakah dia memiliki usaha (bisa juga masuk kategori karyawan), ataukah dia punya investasi yang mengirimkan kekayaan padanya tanpa dia ikut terjun dalam pengelolaan investasi itu. 
Singkat kata; apakah kita kaya karena kita seorang investor ataukah kita kaya karena kita businessman.

Dalam hubungan dengan nikmat secara keseluruhan, saya rasa tidak ada dari kita yang cukup jumawa untuk mengatakan bahwa ini adalah hasil usaha kita. Memangnya siapa kita sehingga layak punya kenikmatan sedemikian banyak? Mulai dari rambut yang menghiasi kepala, hingga kuku yang sehat tidak cantengan, adalah sekujur nikmat yang menempel di tubuh kita. Belum lagi segala fasilitas di jagat raya ini yang mendukung kita untuk berlaku sebagai manusia, makhluk-NYA yang paling sempurna. Rasanya memang kita harus meyakini bahwa terlalu banyak pemberian kepada kita.

Investasi Tanpa Rugi


Pernah dengar seseorang berlaku baik dan mendapat balasan? Sekarang ini banyak bertebaran anjuran untuk berbuat serupa dengan "iming-iming" balasan dari Allah. Nggak salah sih, malah bener banget; tokh Allah Subhanahu wa Ta'ala juga sudah berjanji dan Dia Maha Menepati Janji.

Tapi, menilik pada analogi investor-businessman diatas, menjadikan saya sangat malu untuk menagih janji itu. Sehingga kalaupun kita harus rumongso sudah berinvestasi, tentu hanya dengan kemurahan dari-NYA lah kita menikmati hasil berupa kenikmatan sekarang ini. Ibaratnya, kita taruh deposito sedikiiiiiitttttt banget, tapi Sang Pengelola begitu mahirnya sehingga hasil yang dibagi ke kita sedemikian luar biasa mencukupi kehidupan kita.


Jadi, sudah ketemu kah jawaban untuk pertanyaan:
Apa yang membuat kita seperti sekarang ini? Tetaplah bertanya dan mencari.

Dalam nuansa biso rumongso nanging ora rumongso biso.
Salam berbagi.

@hartantoID

You Might Also Like

0 komentar

nasihat adalah komitmen untuk bersama-sama menjadi lebih baik, dan nasihat tebaik adalah suri tauladan.

Like us on Facebook


Flickr Images