Republik Jejaring Sosial

3:41 PM

Apa yang terjadi sekarang, bisa jadi hanya merupakan mimpi di masa lalu. Nampaknya kutipan tersebut sangat pas disematkan untuk fenomena social media yang makin marak sekarang ini. Dan kali ini, saya coba berbagi sudut pandang lain dari fenomena tersebut, benar-benar dari sudut.


Beberapa waktu lalu pernah ditayangkan di televisi seorang penarik becak melakukan “marketing” jasanya melalui jejaring facebook. Sekitar sebulan yang lalu salah satu akun twitter yang saya follow bercerita bahwa sopirnya menanyakan PIN Blackberry sang majikan biar bisa di-add di Contact BBM sang supir. Tiga pekan yang lewat seorang teman bercerita bahwa saat mencari pembantu dia mencoba meminta tolong pembantu tetangganya yang kemudian menyebarkan informasi lowongan tersebut via akun twitter. Dan, hampir tiap malam pedagang nasi goreng keliling yang lewat di depan rumah selalu membuka diskusi politik dengan bekal informasi dari acara debat di televisi dan situs berita online dari telepon genggam pintar miliknya.

Bukannya bermaksud negatif dengan contoh saudara-saudara kita diatas sebagai subject. Hanya sebagai gambaran ekstrim bahwa akses informasi sekarang ini sudah menyentuh setiap lapisan masyarakat sampai ke akar rumput. Memang masih ada orang seperti guru saya yang hanya tidak bisa dan tidak mau punya HP, bingung katanya. Tapi bagi tukang traktor sebelah rumah di kampung, HP sangat penting untuk bisa memberitahu pemilik lahan yang sudah dia bajak sawahnya bahkan pada saat yang empunya belum bangun tidur.

Yang membuat miris, terkadang masih sangat sering dijumpai ketidak-sesuaian antara supply informasi dengan needs sang pemilik akses. Sehingga tidak jarang terjadi distorsi atas maksud yang ingin disampaikan oleh sang penyebar berita. Meski tidak dipungkiri juga ada beberapa pihak yang kemudian memanfaatkan gap ini sebagai ladang pembodohan dan pembalikan opini publik.

Contoh paling gampang adalah sang pedagang nasi goreng diatas. Mustinya, menurut saya, lebih penting baginya kebutuhan informasi atas berapa harga bahan-bahan yang harus dia beli besok di pasar dini hari. Atau mungkin juga dia bisa collect data nomer ponsel langganan sehingga dia bisa punya hotline untuk setiap pesanan yang menunggu di sepanjang gang dan blok perumahan. Bukannya malah, maaf, menghakimi setiap yang “dinyatakan” bersalah oleh acara debat televisi untuk ikhwal yang dia tidak paham betul. Parahnya lagi, dibumbui dengan fanatisme terkadang sang pedagang nasgor merasa lebih cocok jadi menteri daripada pejabat yang sekarang. Dan tak jarang dia menghujat setiap tokoh yang dirasa kurang kompeten, tentu dalam takaran sesuai informasi yang dia peroleh. Tak kurang setiap berselang satu pelanggan sang pedagang eksis di akun jejaring sosialnya dengan luapan emosi atas perihal yang dia rasakan berdasarkan informasi tersebut.

Sekali lagi saya tambah mengerti sebuah kutipan, bahwa demokrasi menuntut adanya kesiapan infrastruktur pendukungnya, yang salah satu diantaranya adalah kecerdasan rakyat sebagai penguasa demokrasi.

-amru nofhart-

Anda Akan Suka Ini Juga

0 komentar

nasihat adalah komitmen untuk bersama-sama menjadi lebih baik, dan nasihat tebaik adalah suri tauladan.

Like us on Facebook


Flickr Images